Tafsir Nusantara: Melacak Genealogi dan Dinamika Kajian Al-Qur'an di Indonesia

Authors

  • Moh. Zainal Abidin Aris Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
  • Ahmad Rifa'i Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
  • Zaenudin Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
  • Sahron Romadhoni A Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
  • Fathoni Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

DOI:

https://doi.org/10.62387/naafi.v2i2.382

Keywords:

Interpretation of the Archipelago, History of the Qur'an in Indonesia, Contextualization of Interpretation of the Archipelago

Abstract

Kajian Al-Qur'an di Nusantara telah berkembang membentuk suatu tradisi yang khas dan unik, yang tidak terlepas dari proses dialektis antara teks suci yang universal dengan konteks sosio-kultural masyarakat lokal. Pemahaman terhadap kekhasan ini memerlukan penelusuran historis dan analisis terhadap faktor-faktor pendorong yang membentuknya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam akar historis perkembangan kajian tafsir Al-Qur'an di Nusantara serta mengidentifikasi faktor-faktor pendorong utama yang membentuk corak dan karakteristiknya yang distintif.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan historis-sosiologis. Data dianalisis secara kualitatif melalui deskripsi analitis untuk merekonstruksi narasi historis dan mengaitkannya dengan konteks sosial budaya., Akar Historis berkembang dalam tiga fase utama: (a) Fase lisan melalui pengajian dan ceramah; (b) Fase institusionalisasi melalui jaringan ulama abad ke-17 (seperti Abdur Rauf al-Singkeli dengan Tarjuman al-Mustafid) yang menghubungkan Nusantara dengan pusat ilmu di Timur Tengah; dan (c) Fase kemandirian dengan lahirnya karya-karya monumental seperti Tafsir Al-Azhar (Hamka) yang menegaskan otonomi keilmuan.

Faktor Pendorong utama yang membentuk corak khas kajian tafsir Nusantara adalah: (a) Strategi Kontekstualisasi yang membumikan nilai Qur'ani dengan kearifan lokal (local wisdom) seperti gotong royong; (b) Institusi Pendidikan Pesantren yang menjaga transmisi ilmu melalui kitab kuning (Turjuman al-Mustafid, Tafsir al-Jalalain) dan sistem sorogan; (c) Respons terhadap Dinamika Sosio-Politik, di mana penafsiran digunakan untuk merespons kolonialisme hingga isu modern seperti demokrasi dan HAM; serta (d) Semangat Moderat (Wasathiyyah) yang menekankan pendekatan yang memadukan teks dan akal, serta menolak penafsiran yang literal dan ekstrem.

Kajian Al-Qur'an di Nusantara merupakan sebuah tradisi yang hidup, yang dibentuk oleh akar sejarah yang dalam dan didorong oleh interaksi yang dinamis antara ortodoksi Islam dan realitas lokal. Karakter utamanya adalah kontekstual, moderat, dan inklusif. Keberlanjutan tradisi ini di masa depan bergantung pada kemampuan untuk melestarikan warisan intelektual sambil berinovasi dengan metodologi kontemporer dan media digital, sehingga tetap relevan dan memberikan kontribusi bagi diskursus tafsir global.

Published

2026-02-08

How to Cite

Aris, M. Z. A., Rifa’i , A., Zaenudin, Sahron Romadhoni A, & Fathoni. (2026). Tafsir Nusantara: Melacak Genealogi dan Dinamika Kajian Al-Qur’an di Indonesia. NAAFI: JURNAL ILMIAH MAHASISWA, 2(2), 268–276. https://doi.org/10.62387/naafi.v2i2.382

Most read articles by the same author(s)